Wednesday, May 23, 2018

10 Days Itinerary Vietnam Trips - Backpacker Style (Cheapskate One) - Part I

Selamat tahun baru!! #padahal sudah bulan Mei. Berhubung ini adalah pos comeback saya di tahun 2018 ini, jadi bolehlah sedikit diapresiasi :)
Postingan saya kali ini akan membahas tentang pengalaman perjalanan saya ke... #drumroll please.... VIETNAM... (padahal sudah ditulis di judul). Jadi awal bulan April kemarin, tepatnya tanggal 5-15 April 2018. Saya dan keluarga liburan ke Vietnam dengan tujuan ke Hanoi, Hoi An, dan Ho Chi Minh. Sebenarnya ada banyak sekali kota-kota menarik lainnya di Vietnam, seperti Hue, Sapa, Mui Ne, dsb. Tapi karena akses transportasinya yang cukup sulit, serta waktu yang tidak mencukupi, kami memutuskan akan mengunjunginya di lain waktu saja.

Karena cukup panjang saya akan membagi pos ke dalam 4-5 bagian, yang mana bagian pertama ini akan membahas tentang perjalanan kami selama di Hanoi. Kami berada di Hanoi selama 5 hari 4 malam. Di sini saya akan menerangkan rekomendasi tempat wisata, tempat menginap, makanan apa saja yang bisa kamu konsumsi di sana (vegetarian), serta memecahkan stigma orang-orang mengenai Vietnam adalah negara yang buruk bagi turis asing.

Ngirit Tips no 1:

Kalau kamu cukup kuat, untuk menghemat waktu perjalanan, gunakan penerbangan malam hari. Sehingga saat kamu tiba nanti (biasanya pagi hari), kamu bisa langsung melanjutkan perjalanan kamu.

Ngirit Tips no 2:

Jika pesawat yang kamu tumpangi tidak memberikan makanan gratis, kamu bisa bawa makanan dari rumah untuk sarapan nanti. Kamu bisa mengambil air minum di drink water fountain di bandara yang biasanya berlokasi di dekat-dekat toilet

Hari ke-1: 6 April 2018 Hoan Kiem Lake - Old Quarter Area


Kurang lebih pukul 10 pagi kami tiba di bandara Internasional Noi Bai Hanoi, Vietnam. Setelah mengambil bagasi dan sarapan, kami keluar menuju area pemberhentian bus 86. Kondisi cuaca saat itu hujan gerimis. Jika kami memakai bus, kami masih harus berjalan lagi sekitar 5 menit menuju hotel. Sementara cuaca saat itu sedang tidak bersahabat untuk kami yang datang dengan membawa koper-koper besar :(
Tiba-tiba, seseorang berbadan besar dan botak mendatangi rombongan kami, menawarkan airport transfer ke hotel kami sebesar 500.000 VND (IDR 320.000). Untuk 10 orang sebenarnya harga tersebut sudah tergolong murah. Tapi kami mencoba menawar lagi hingga akhirnya kami sepakat pada harga 400.000 VND (IDR 256.000). Terbilang murah bukan untuk perjalanan selama +- 40 menit menuju hotel.

Kami menginap di sebuah hotel yang terkenal di kalangan backpacker. Karena kami bersepuluh, kami memutuskan untuk menyewa satu kamar yang muat untuk kami semua. Kami memilih menginap di Cocoon Inn di area Old Quarter dengan proses booking menggunakan hostelworld.com. Jujur saja, dikarenakan banyaknya berita buruk tentang Vietnam scam di sana sini, seluruh anggota keluarga saya harap-harap cemas dengan hotel pilihan saya ini. Untungnya apa yang kami takutkan tidaklah terjadi. Selama 5 hari saya di Hanoi, saya bisa menyimpulkan jika Vietnam tidaklah seburuk yang dituliskan.

Cocoon Inn menyediakan tempat bagi kami untuk bersantai sebelum waktu check in (pukul 14.00) tiba serta tempat untuk menitipkan koper-koper kami. Hotel ini juga menyediakan sarapan gratis dan handuk gratis yang boleh diganti setiap harinya. Untuk ulasan lengkap mengenai hotel ini, kamu bisa membaca review saya pada kolom review di Google Maps
Pukul 1 siang, saya dan mama pergi mencari makan siang dengan menggunakan offline google maps. Ya saya tidak membeli nomer di sini, sebagai gantinya saya selalu memanfaatkan WiFi yang tersedia secara gratis di tempat-tempat umum, seperti tempat makan, hotel, maupun mall.

Ngirit Tips no 3:

Jika kamu bukan tipe orang yang mau live vlog kapanpun, kamu bisa hidup di Vietnam dengan aman hanya dengan cara menyimpan offline Google Maps di smartphone kamu. Pastikan location service kamu menyala, dan kamu membawa power bank. Selain itu, pastikan pula kamu mengunduh offline translation bahasa Vietnam di aplikasi Google Translate milikmu.

Fakta Unik no 1 tentang Vietnam:


Kebanyakan orang Vietnam mempercayai Buddha, tapi bukan berarti mereka beragama Buddha. Kamu akan sering menemukan altar kecil dengan beragam sajian buah, salah satunya buah tangan Buddha di toko-toko/ tempat makan yang kamu datangi. Pada tanggal 1 dan 15 kalender Cina, biasanya orang-orang Vietnam akan bervegetarian sesuai ajaran Buddha.

Selama saya berada di Hanoi, saya tidak menemukan adanya tanda-tanda Rumah Makan Halal yang bisa banyak kamu temukan saat kamu di Ho Chi Minh. Karena itu bagi kamu yang muslim, saya sarankan untuk makan di RM vegetarian yang kehalalannya terjaga atau RM India. Dan bagi kamu yang bervegetarian, perlu diketahui jika kebanyakan rumah makan vegetarian di Hanoi memasak dengan menggunakan bawang-bawangan. Jadi jangan lupa untuk selalu memberikan catatan saat memesan makanan.


Fakta Unik no 2 tentang Vietnam:


Old Quarter sangat kaya akan turisnya. Sehingga mayoritas penduduknya bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Namun ada kalanya ketika mereka bingung, gambar akan sangat membantu. Sebagai contoh: Saat saya hendak memesan makanan vege tanpa daun kucai (Bahasa Inggris: Chives), mereka kurang paham. Alhasil saya menunjukan gambar daun kucai di Google, dan mengisyaratkan untuk tidak menggunakan bahan tersebut. Gunakan kata 'Chay' untuk mengungkapkan kalau kamu menginginkan makanan vegetarian.


Fakta Unik no 3 tentang Vietnam:


Kamu hampir tidak akan menemukan orang gemuk di Vietnam. Mereka semua berbadan kurus - langsing... (#lihat perut :( sedih ). Berdasarkan hasil pengamatan saya, orang Vietnam makan cukup banyak, porsi makanan yang didapat tergolong besar - tapi komposisi makanan yang mereka makan berupa daun-daunan dan berbahan dasar beras (baca: bihun, rice paper, kwetiaw - bukan nasi). Satu hal lainnya dikarenakan rumah-rumah di Vietnam memiliki minimal 3 lantai yang dilengkapi dengan tangga, mau tidak mau kamu bisa menyimpulkan jika penduduk Vietnam memiliki fisik yang sehat.


Bangunan di Old Quarter

Fakta Unik no 4 tentang Vietnam:



Rumah/ toko di Vietnam memiliki lebar tidak lebih dari 5 meter terkecuali itu berupa hotel Internasional/ Mall. Rata-rata bangunan yang kamu temui memiliki minimal 3 lantai. Alasannya saat Vietnam masih dikuasai oleh Prancis, pajak bangunan dihitung berdasarkan dari lebar rumah, tapi ada juga yang mengungkapkan karena mayoritas keluarga di Vietnam ingin tinggal serumah. Untuk lebih lengkapnya kamu bisa baca di sini.

Cai Mam Restaurant

Rumah makan vegetarian yang saya kunjungi pertama kali di sini adalah Cai Mam yang berlokasi tidak jauh dari tempat kami menginap. Cai Mam tidak hanya menyediakan makanan vegan/ vegetarian saja namun juga makanan Vietnam lainnya. Saya memesan Bánh Xèo Chay seharga 90.000 VND (IDR 57.600) dan mama saya memesan vegan rice noodle soup seharga 70.000 VND (IDR 44.800).

Cold Black Coffee with Condensed Milk (40.000 VND)
Bánh Xèo Chay (90.000 VND) & Vegan Rice Noodle Soup (70.000 VND)
Cara memakan Bánh Xèo terbilang unik, disarankan untuk memakai tangan saat memakannya. Kertas putih mengkilap yang nampak di piring pada gambar di atas merupakan rice paper untuk membungkus. Letakan daun, bihun putih, dan crepes isi sayuran ke atas rice paper, gulung dan celupkan ke saus cuka manis yang tersedia. Terlihat aneh tapi ini emang enak pake banget :')

Selesai makan, kami berjalan kaki menuju area Hoan Kiem Lake kurang lebih sekitar 1 km. Sepanjang jalan kamu akan menemukan banyak toko yang menjual baik pakaian maupun makanan-minuman. Harga air mineral di sini 10.000 VND (IDR 6400) untuk ukuran 1.5 L. Karena kami bersepuluh kami memilih untuk beli versi galon mini 6 L seharga 25.000 VND (IDR 16.000). Area Hoan Kiem Lake terbilang luas, kamu bisa melihat dan berfoto di jembatan merah, monumen Lý Thái Tổ, serta mengunjungi Trang Tien Plaza (Mall yang menjual barang branded yang sayangnya amat sangat sepi) tidak jauh dari danau. Selain itu terdapat pula teater boneka air Thang Long di depan danau, dan banyak lainnya. Menjelang malam saat weekend, jalanan di area Hoan Kiem Lake akan ditutup sekitar pukul 6 sore karena akan digunakan untuk pasar malam. Sehingga kamu tidak perlu khawatir lagi dengan banyaknya motor yang berlalu lalang di area Old Quarter.

Hoan Kiem Lake sehabis hujan :(

Dessert Soup di Net Hue (20.000 VND/ porsi)

Jembatan Merah di Hoan Kiem Lake saat malam hari
Monumen Lý Thái Tổ
Miến Trộn di Min Chay Vegan (79.000 VND)

Fakta Unik no 5 tentang Vietnam:


Sepanjang jalan Old Quarter, kamu akan lebih banyak menemukan motor yang lalu lalang daripada mobil, dan gilanya tidak ada lampu merah di sini. Motor tidak akan berhenti mengalah ketika kamu hendak menyeberang bahkan saat kamu melambaikan tangan layaknya menyeberang di Indonesia, jadi bersiap-siaplah untuk senam jantung saat menyeberang. Awalnya memang menyeramkan, lama-lama tidak jadi masalah.

Fakta Unik no 6 tentang Vietnam:


Karena lokasinya yang berjauhan satu sama lain, kota-kota di Vietnam memiliki cuaca yang berbeda-beda. Pastikan kamu mencari tahu lebih dahulu cuaca kota yang akan kamu kunjungi sebelum pergi. Letak Hanoi yang berdekatan dengan daratan Cina membuat suhu di bulan April menujukan antara 19-24' Celcius. Sementara itu, saat saya di Ho Chi Minh, saya merasakan panas yang sangat luar biasa sekitar 32-36' Celcius, tetapi rasanya seperti 40' Celcius :(

Berhubung sudah terlalu panjang, posnya bersambung ke bagian berikutnya ya :D Bagian II

Friday, August 5, 2016

The next step: Story of my Life part IV - A tough way

Sebelumnya di Miracle?

I got a job even before I graduated, wow... this is just unbelievable. Well if I have any experience, I won't say anything but for me who don't have enough experiences either in organization nor in working, along with null portfolio,  I can say this will never happened without a God's plan.


Jika ada di antara kalian yang berpikir ingin cepat-cepat lulus kuliah, percayalah kalian mungkin akan menyesali pemikiran kalian tersebut. Pesan saya, nikmatilah saja masa-masa kuliahmu. Dunia kerja berbeda 180 derajat dari kehidupan kuliah kamu. Menarik? Ya tentu saja menarik dan semua hal di dunia ini pastinya memiliki keunikannya masing-masing. But sometimes things are tougher than its seem.

Tepatnya tanggal 21 Maret 2016, itu adalah hari pertama saya bekerja dan jujur, saya tidak tahu pasti apa yang akan saya kerjakan kala itu. Maksud saya, lapangan tempat saya bekerja ini merupakan sesuatu yang sangat baru di mata saya, dan itu sama sekali tidak pernah saya dapatkan selama perkuliahan. Hingga detik pos ini ditulis, masih ada sedikit bayangan abu-abu dalam pikiran saya, tak kurang rasa cemas akan hal ini dan itu juga terbesit dalam pikiran saya. Ya, harus saya akui rasa takut itu tetap ada, saya khawatir saya tidak bisa mengikuti pembelajaran ini dengan cepat dan itu bisa mengakibatkan saya harus menyerah... tentu saja saya tidak mau hal itu benar-benar terjadi.

Bulan Agustus 2016....

Waktu berlalu sangat cepat, saya ingat dua bulan pertama saya diisi dengan pelatihan... ya tentu saja otak ini dipenuhi dengan teori A, B, C, dan sebagainya, sayangnya semua teori ini tidaklah cukup. Pandangan saya masih buram dan saya berpikir apakah ada yang salah dengan otak ini. Di bulan ketiga, saya mulai menerapkan teori yang saya dapatkan, tidak lebih dari separuh, namun rasanya saya masih merangkak perlahan dengan mata tertutup. Di bulan keempat saya mengalami dan belajar sesuatu yang sejatinya tidak perlu saya pahami dengan mendalam, tapi paling tidak dari sini saya bisa bersyukur karena saya telah mengambil pilihan yang tidak salah. Akhirnya, kurang dari satu bulan sebelum akhir dari penentuan itu tiba, saya mulai bisa berdiri dan berjalan sekarang, meskipun kedua kaki ini mungkin masih belum kuat untuk berlari.

Akhir dari masa itu akan segera tiba, sedikit bocoran tepatnya di bulan September nanti. Saya tidak tahu apakah saya harus merasa khawatir atau biasa saja di waktu penentuan yang semakin dekat ini. Di satu sisi saya takut jika saya harus mundur, di sisi lain apapun hasilnya nanti saya sudah mengerahkan seluruh kemampuan saya. Paling tidak sekarang saya sudah bisa berjalan dari yang sebelumnya merangkak saja pun tidak bisa. Kita lihat saja nanti apa hasilnya :) Right now, the next story of my life is still folded, FYI, God is working on it. Fighting!

Saturday, June 4, 2016

The next step: Story of my Life part III - Miracle?

Sebelumnya di Persiapan

Setelah melamar saya tidak berharap banyak, karena saya juga sedang fokus mempersiapkan sidang dan juga hendak pindah kos. Tepat di hari terakhir saya magang, smartphone saya berdering, sebuah panggilan masuk datang


"Halo, dengan saudari xxx, saya x, dari perusahaan y. Anda melamar untuk posisi junior application development engineer melalui jobstreet, apa benar?" Eh.. pikiran saya terhenti sejenak. Wah lamaran yang saya masukan sebulan yang lalu mendapatkan jawabannya sekarang ternyata. Hmm...? dan telepon masih terus berlanjut. "Sekarang sudah lulus belum ya?" Lagi nunggu sidang nih. "Oh, kalau gitu kapan mba bisa mulai kerja jika diterima?" Dalam hati saya berkata, "Wah, jadwal sidang skripsi saja belum keluar, gi mana mau kerja?". Terang saja langsung saya jawab bulan April 2016.

Tidak berhenti sampai di situ, jantung saya kembali dibuat shock karena HR meminta saya untuk melakukan interview langsung di esok harinya. Kebetulan telpon itu datang pada hari Jumat, jadi ya... sesuai dugaan proses interview dilakukan di hari libur... What the..... asdfgh. Tapi ya sudah saya sanggupi saja. Perkara lolos engganya itu belakangan. Bye my precious holiday... Proses interview yang dilakukan terdiri dari tes teknikal, interview HR, dan interview user.

Malamnya saya harus mempersiapkan ina itu ini ito, meskipun beberapa berkas seperti transkrip nilai dan ijasah tidak dapat saya penuhi. 'La wong sidang wae durung... .-. jadwal e durung metu -_-'. Keesokan harinya saya datang pukul 9.30 dan melakukan tes hingga kurang lebih pukul 11.00. Setelah technical test selesai, interview dengan user akan dilanjutkan. Namun karena waktu sudah menunjukan pukul 12.00 (istirahat), saya diminta untuk menunggu dan kembali lagi pukul 13.00. Oh man, waktu itu saya benar-benar seperti orang kikuk, bayangkan itu hari Sabtu di mana kebanyakan tempat tutup dan bisa dibilang sangat sepi. Di mana saya harus menunggu selama 1 jam?

Tidak mungkin juga jika saya menunggu di depan lift selama 1 jam. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk di mini market terdekat. Sedari menunggu, tiba-tiba teman saya mengabarkan jika jadwal sidang kami telah keluar... #dang 4 Maret pukul 17.20-21.00. FYI, sebenarnya saya berharap jangan dapat jadwal malam, tapi apa daya.. tidak ada yang bisa diubah. Tanggal 27 Februari menuju 4 Maret bukanlah waktu yang lama. Terlebih tanggal 1 Maret saya harus pindah kos ke daerah Binus lagi.

Berita ini membuat saya tidak memikirkan lagi perkara diterima atau ditolaknya lamaran saya. Yang ada di kepala saya saat itu hanya bagaimana caranya saya membagi waktu untuk mempelajari skripsi yang merupakan kunci akhir kehidupan perkuliahan saya selama 3.5 tahun ini. Akhirnya waktu menunjukan pukul 13.00 lebih, saya kembali ke atas untuk melanjutkan interview. Ternyata user-nya orang India dan seperti requirement awal, interview dilakukan dengan bahasa inggris, namun terus terang telinga saya agak sedikit kesulitan mendengar bahasa inggris dengan aksen India, tapi untung saja interview masih berjalan lancar dan satu hal yang paling tidak bisa dipercaya adalah ketika user menanyakan kapan saya bisa mulai bekerja karena saya diterima #eh.. o.o

I got a job even before I graduated, wow... this is just unbelievable. Well if I have any experience, I won't say anything but for me who don't have enough experiences either in organization nor in working, along with null portfolio,  I can say this will never happened without a God's plan.

bersambung...

Sunday, May 1, 2016

The next step: Story of my Life part II - Persiapan

Sebelumnya.... di Kilas balik

Jika saya memutuskan untuk bekerja di luar bidang kuliah saya sekarang, sejujurnya saya tidak perlu ambil pusing tentang itu. Namun nampaknya kamu boleh sebut saya orang yang aneh-gila. 



Akankah saya mendapatkan pekerjaan setelah lulus yang sesuai bidang saya sementara skill saya saja masih mendasar? Perlu diketahui saya bukanlah tipe orang yang baru mulai bisa merangkak, tapi berani mengungkapkan kalau saya juga bisa berjalan, berlari, dan melompat. Tidak, saya tidak sepercaya diri itu. Saya tidak mau pandangan orang pada saya jatuh karena penilaian seseorang terhadap suatu skill itu relatif. Di mata saya, paling tidak ketika saya bisa menguasai minimal 3 kemampuan, mungkin barulah saya berani berujar... "Ya, saya bisa skill tersebut"

Pertanyaan selanjutnya, apakah ada perusahaan yang mau menerima seseorang dengan skill yang dibilang mengambang ini. Sementara jika kamu perhatikan, rata-rata perusahaan membutuhkan skill yang amat beragam, penggunaan framework a,b,c,d, familier dengan bahasa a, b, c, dan lain sebagainya. Kalau saya orang dengan kepercayaan diri tinggi, saya mungkin akan menuliskan saya bisa bahasa C, C++, Java, C#, dan sebagainya. Mengingat kampus pernah mengajarkan mereka semua. Namun ketika ditanya seberapa dalam kamu memahaminya? Apa jawaban kamu? Apakah kamu benar-benar paham sampai ke akarnya, atau tahu dan pernah menggunakannya sebentar, atau jangan-jangan hanya asal tahu saja, lalu tulis saya bisa ini. Toh dulu pernah lihat format penulisannya juga.

Bulan Januari 2016 jadwal penyerahan skripsi makin dekat. Di satu sisi saya juga berpikir kalau saya sudah lulus nanti saya mau ke mana? Hmm, coba melamar-lamar saja kali ya, siapa tahu dapat panggilan. Sekedar informasi, saya bukan anak yang aktif di organisasi maupun ikut seminar/ workshop sana sini. Sebut saja saya anak kupu alias kuliah pulang. Alhasil, tentu saja CV saya polos tak berwarna, dan saat menulis skill - inilah hal yang paling saya takuti. Saya memang pernah belajar di kampus tentang bahasa C, C++ tapi sudah lupa semua. Sementara pelajaran web programming tidak saya dapatkan di perkuliahan karena saya mengikuti program magang tidak kuliah :p.

Oh Yes, lihat apa yang sudah kamu perbuat? Kenapa kamu seceroboh dan sebodoh itu? Akhirnya saya memutuskan untuk menulis 2 bahasa pemrograman yang saya ketahui C# dan Java- tidak terlalu mendasar sekali namun juga tidak mahir. Sudah kubilang kan, kalau penilaian skill itu relatif. Karena itu saya tidak berani menuliskan persentase maupun bintang-bintang yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang saat membuat CV.

Bermodalkan unsur 'tekad nekat' saya sudah membuat list perusahaan tempat saya ingin melamar baik melalui job portal kampus maupun job portal populer di Indonesia. Kurang lebih ada 14 perusahaan yang ingin saya lamar. Namun karena saya mulai sibuk menjelang penyerahan skripsi dan persiapan untuk sidang saya mengurungkan rencana awal. Saya berpikir perusahaan mana yang mau memanggil wawancara anak yang belum lulus, selesai magang saja belum. Jadi saya memutuskan untuk melamar setelah selesai sidang saja, hitung-hitung sambil belajar meningkatkan skill juga sedari menunggu. Anehnya, saya iseng memasukan sebuah lamaran ke satu perusahaan di akhir bulan Januari melalui job portal populer.

Seorang teman saya menanyakan, "kamu tidak melamar lewar job portal kampus saja? Sepertinya kesempatan panggilan lebih tinggi." Benar juga ucapannya dan saya memutuskan melamar ke 4 tempat yang berbeda. Setelah melamar saya tidak berharap banyak, karena saya juga sedang fokus mempersiapkan sidang dan juga hendak pindah kos. Tepat di hari terakhir saya magang, smartphone saya berdering, sebuah panggilan masuk datang

Bersambung...

The next step: Story of my Life part I - Kilas Balik

Kira-kira sudah hampir 2 bulan lamanya saya lulus S1. Senang? tentu saja. Tapi ada satu hal yang saya rasakan cukup berbeda, malah amat sangat berbeda dari sebelumnya. Saya tidak tahu apakah ada sesuatu yang salah dengan diri saya, atau memang inilah kenyataan hidup. Sedikit flashback....beberapa bulan yang lalu, jauh sebelum saya menjalani sidang skripsi, saya berpikir dan bertanya pada diri saya, "kemampuan apa yang sudah kamu miliki untuk menjadi bekal dalam menjalani dan bertahan di kehidupan ini nanti? Bermain game? Menjadi penulis?" Hmm... bisa jadi, pertanyaan selanjutnya hingga usia berapa saya hendak melakukan kedua hal tersebut. Apakah saat usia saya menginjak 30 nanti saya masih akan tetap menulis untuk menyambung hidup saya? Entahlah.... hanya Tuhan yang tahu. Buku masa depan saya juga masih terkunci rapat di atas sana dan sekarang ini, saya tidak mau ambil pusing tentang itu.

Namun kenyataannya sebagian dari diri saya berkata lain, kurang lebih 3.5 tahun lamanya saya berkuliah di jurusan Teknik Informatika. Apakah saya menemukan passion coding dalam diri saya di kala perkuliahan? Jawabannya tidak, bahkan saya sempat berpikir mungkin saya telah salah jurusan. Tapi bukan berarti saya membecinya. Jika saya membencinya mungkin saya tidak berada di kondisi saya saat ini. Satu hal nasihat dari saya, percayalah walaupun kamu menyukai hal-hal berbau komputer bukan berarti kamu harus masuk TI, begitu pula sebaliknya. Banyak juga yang bilang jika kamu dari IPA maka masuk TI, jika kamu dari IPS kamu masuk SI.

Kembali ke masa lalu, saya melihat coding sebagai suatu kewajiban yang harus saya jalankan untuk bisa menyelesaikan tugas-tugas yang ada di perkuliahan saya. Tidak lebih. Ya, itu saja. Ironis bukan? Lebih buruknya lagi, penanaman konsep yang tanpa akar mendasar menjadikan pandangan saya tentang coding semakin rumit. Jika diibaratkan, kamu baru saja belajar bagaimana cara merangkak, tiba-tiba kamu harus siap dan diajarkan untuk melompat, tapi kamu juga diminta untuk berlari sambil salto. Terbayang?

Kamu mungkin berpikir, "Hello, kita sudah mahasiswa. Kamu bukan anak kecil lagi, kalau belajar sendiri juga pasti bisa." Hmm.... ya mungkin itu berlaku untuk kamu, tapi tidak untuk saya. Lebih beruntung lagi jika kalian berasal dari sekolah menengah kejuruan dan bukannya sekolah menengah atas seperti saya. Beberapa SMA mungkin juga ada yang sudah memberikan pembekalan tentang apa itu coding, sayangnya... sekali lagi berasal dari sekolah daerah membuat saya tidak tahu tentang itu. Ironisnya setahun setelah kelulusan saya, SMA saya mengubah kurikulumnya dan memberikan pengajaran coding untuk pelajaran TIK. Apa yang salah dengan angkatan saya :/ ?

Pada saat saya berkuliah dan mendapatkan pelajaran coding, saya berusaha - bersusah payah untuk mengikuti dan memahaminya dengan baik. Sayangnya kamu akan sering menemukan pengajar yang pandai secara ilmu namun kurang kemampuan dalam hal menjelaskan. Sehingga ketika kamu bertanya, kenapa dan bagaimana? Kamu tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan, intinya kamu hanya akan menemukan jawaban, "pokoknya begitu caranya. kalau susah hafalkan saja urutannya."

WTH is that? Kalau dipikir-pikir lucu jaga rasanya bagaimana dulu saya malah menerima saja saran tersebut. "Well, I must admit I've done that." Jika kamu dibekali dengan otak yang genius, tidak akan sulit bagi kamu untuk segera menemukan jawaban atas mengapa dan bagaimana hanya dengan browsing di Google saja. Sayangnya tidak semua orang dikaruniai dengan anugerah tersebut.

Kalau kamu membaca banyak artikel yang mengungkapkan lulusan TI tidak bisa koding, sebenarnya hal itu tidak salah. Pertanyaannya siapa yang salah dan harus disalahkan di sini? Menjelang skripsi saya mulai harap-harap cemas dengan hal tersebut. Tidak bisa koding - apa apaan itu. Seorang lulusan TI tidak bisa koding. Namun tahukah kamu jika ketakutan yang kamu miliki justru bisa mengubahnya jadi keberanian. Trust me, it's worked. 

Pekerjaan saat saya magang tidak membutuhkan skill coding. Alhasil, saya harus belajar sendiri di kala saya senggang. Yang ada di pikiran saya kala itu, saya tidak mau saat sidang nanti saya tidak bisa menjawab. Oleh sebab itu, saya pelajari titik teori yang menjadi landasan paling mendasar. Mencari jawaban atas mengapa dan bagaimana? Mengapa harus menggunakan a atau b, bagaimana suatu proses bisa terjadi, dan lain sebagainya. Saya mencari tahu bukan tempe asal usulnya, bukan sekedar jawaban instan.

Jika saya memutuskan untuk bekerja di luar bidang kuliah saya sekarang, sejujurnya saya tidak perlu ambil pusing tentang itu. Namun nampaknya kamu boleh sebut saya orang yang aneh-gila. Ketika semua orang justru mencari hal yang mudah, di mana kamu bisa mendapatkan penghasilan melalui hobi kamu yang sudah terbukti, kenapa kamu justru memilih jalan yang baru (baca: yang belum pasti)? Apakah ada perusahaan yang mau menerima seseorang seperti kamu? Ya sejujurnya inilah hal yang paling saya takuti.

Bersambung... Persiapan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...