Sunday, March 20, 2016

Akhirnya masa belajar saya selesai... Saya Lulus S1! #victorycry

Tahun 2015 lalu merupakan tahun yang cukup sibuk dan berat bagi saya, berbagai masalah mulai dari porsi kecil, sedang, besar, hingga complicated sudah saya temui dan berhasil saya lalui. Awal tahun 2016 pun, saya masih tetap sibuk... Hiks hiks... Sudah lama sekali rasanya, saya tidak menulis lagi... kangen...? Ya, kalau boleh jujur, tentu saja saya kangen sekali, mungkin terakhir kali saya menulis adalah September tahun 2015 lalu. Bukan nulis skripsi lho ya... Kalo itu masih membekas di jari saya bahkan :p

Beberapa orang mungkin mengenal saya sebagai seorang penulis/ kontributor untuk Tech In Asia Games (Januari 2013 - Agustus 2015). Tapi saya sudah menghilang... bak ditelan bumi. Saya juga membuat beberapa gameplay video untuk channel YouTube saya sendiri. Namun saya juga sedang absen selama beberapa lama tidak memberikan kontribusi maupun mengunggah video baru. Yang terparah lagi adalah backlog game di iPad saya yang jumlahnya melebihi 50 games, dan mungkin lebih dari separuhnya belum pernah dimainkan sama sekali. Cukup gila memang, tapi itulah saya.... sebuah kebiasaan buruk yang tak pantas ditiru. Oh ya, sekarang saya sudah berusaha mengontrol diri untuk tidak membeli game pada hari pertama lagi.... Don't worry -backlog-, I'll play you one by one... :')

Percayalah ini belum ada yang dimainin :( kecuali folder simulation sama Now Playing

Sebenarnya saya ingin sekali untuk kembali, tapi rasanya waktu berjalan terlalu cepat dan saya sedikit ragu dengan kesiapan saya untuk bisa kembali seperti yang dulu, fenomena-fenomena yang terjadi di sekeliling saya silih berganti begitu cepatnya, sampai-sampai saya tidak percaya kalau saya bahkan tidak mengalami masa di mana seorang mahasiswa yang sudah lulus itu akan 'menganggur'. Tunggu, saya tahu apa yang kamu pikirkan... Seharusnya saya bahagia, ketika mungkin banyak di antara mereka yang sedang mengalami fase tersebut dan bersedih karenanya, sementara saya sendiri tidak. Tapi, sejujurnya saya benar-benar berharap bisa pulang ke kampung halaman saya selama 2 minggu untuk menghirup napas lagi, ya itu saja... paling tidak sebelum saya menempuh kehidupan saya yang baru di keesokan harinya. Sayangnya, itu hanya angan-angan semata saja. Oke, kita lanjutkan ceritanya

Saya serius ketika saya berkata kejadian-kejadian yang terjadi 3 minggu ke belakang ini berjalan begitu saja, mengalir bagai aliran sungai yang deras. Waktu di mana saya mengetahui jika tanggal 4 Maret 2016 akan menjadi tanggal penentuan kelulusan saya setelah berkuliah selama 3.5 tahun, tepat pada detik itu juga pikiran saya seolah terhenti dan hanya berfokus ke satu hal. Sayangnya pada keyataannya, apa yang terjadi tidak selalu berbanding lurus dengan apa yang kamu harapkan. 

Awal Maret merupakan hari-hari yang cukup sibuk bagi saya karena saya harus berkemas untuk pindah kembali menge-kos di Binus. Alasan menarik, kenapa harus kembali ke jalanan yang sempit dan sering macet, setelah setahun sebelumnya kamu sudah tidak mengalami itu lagi? Sederhana saja, saya sudah lelah berada di lokasi yang cukup 'terisolasi' dari teman serta saudara, dan di mata saya Binus sudah menjadi lokasi yang cukup strategis, terlepas dari fakta jika sekarang saya jauh dari Mall, setelah sebelumnya hanya perlu berjalan kaki kurang dari 5 menit saja untuk sampai ke pusat perbelanjaan bergengsi di Jakarta Pusat :p (Ya, siapa pula yang tidak menginginkan hal itu?)

Rasanya jam berhenti nih :p

Persiapan untuk sidang sendiri terasa tidak terlalu maksimal di mata saya, ada sedikit rasa bersalah dan penyesalan kala itu. Sesuatu yang sebenarnya mungkin bisa dicegah ketika saya bisa mempersiapkannya lebih baik lagi di awal. Namun di satu sisi, pernahkah kamu mendengar jika orang pandai sekalipun akan dikalahkan dengan orang yang beruntung? Haha... saya hanya bercanda. Ya sudahlah tidak ada yang perlu disesali dan dikhawatirkan lagi, apa yang sudah terjadi.. dan berlalu, biarlah berlalu dan biarkan itu menjadi sebuah kenangan dalam sebuah kotak yang bernama 'KMK' alias Kenangan Masa Kuliah hahaha. Seumur hidup juga hanya terjadi sekali bukan?

Ketika masa sidang selesai, saya berpikir: 'Yes, bisa santai sejenak!' dan drum roll, please.... Pemikiran saya salah total, terkecuali jika saya mau memperpanjang masa revisi saya dengan menggunakan surat extend (dispensation) yang mana saya tidak mau itu terjadi. Saya berpikir 2 minggu pasti cukup, bahkan awalnya saya mengira 1 minggu juga pasti cukup. Namun sekali lagi, kenyataan berkata lain dari teori prediksi awal saya.... dan bisa dibilang hal-hal yang menghambat revisi saya terbilang ringan namun keringanan tadilah yang menyita banyak waktu, sungguh... amat banyak. Tapi dari sini, kamu akan belajar untuk benar-benar menghargai goresan-goresan sederhana nan mematikan, yang bisa diibaratkan itu adalah penentu kamu untuk bisa diwisuda atau tidak... Ya saya serius... Terlepas dari kewajiban kamu harus bayar untuk prosesi wisuda pastinya.

Selesai! Yes, lulus... tinggal tunggu wisuda :)

Tanggal 19 Maret 2016 kemarin akhirnya saya berhasil menyelesaikan sebuah tahap akhir untuk membuka babak yang baru, an unknown chapter. Ya, saya berhasil menyelesaikannya dengan terlambat sehari dari deadline yang sudah ditentukan. Sebenarnya, kemarin adalah hari keberuntungan saya... ya saya sendiri juga tidak menyangka jika kebetulan itu benar-benar membawa keberuntungan bagi saya, Tuhan memiliki rencana yang terbaik bagi saya dan memberikan saya jalan yang terbaik sesuai dengan rancanganNya. I'm really grateful for that. Di saat kamu menyerahkan segala sesuatu ke tanganNya, di saat itulah Ia akan bekerja dan memberikan kamu yang terbaik.

Sebenarnya kamu mungkin bertanya-tanya apa yang saya lakukan satu tahun ke belakang ini? Kampus saya memiliki 3 model skripsi (tahun 2016), dan saya mengambil salah satu model yang namanya skripsi 3+1, yang awalnya berarti kuliah 3 tahun dan magang 1 tahun. Kenyataannya saya hanya berkuliah dari semester 1-5, dan semester 6-7 saya magang di salah satu perusahaan terkenal di Indonesia yang bergerak di bidang industri game. Terlibat dan melihat secara langsung bagaimana sebuah game itu dibuat menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi saya. Dahulu saya pernah berkata pada diri saya sendiri jika saya ingin turut berkecimpung di bidang game tidak peduli baik itu sebagai developer maupun jurnalis, asalkan itu game saya akan terjun di dalamnya. Hahaha.... 

Rasanya saya begitu egois dan amat idealis kala itu, bahkan mama saya cukup khawatir mendengar celotehan anaknya yang terdengar konyol. Sementara kita semua tahu, Indonesia sendiri belum memiliki pasar industri game yang cukup besar dan kuat, dan di mata orang tua hal tersebut bukanlah sesuatu yang baik bagi anaknya. Kendati demikian mama saya tetap mendukung 100% keputusan saya.

Thank you everyone for the hospitality
Waktu demi waktu berlalu, ada banyak hal yang terjadi dalam diri saya dan saya pelajari sedikit demi sedikit hingga saya menemukan dan memutuskan jika bekerja di bidang game bukanlah keinginan saya, bukan berarti saya melihat game itu membosankan atau saya membenci game atau tidak suka dengannya. Hanya saja, sekarang di usia saya yang menginjak 22 tahun, saya tahu jika saya melihat game sebagai sebuah seni dan bukan lagi menjadi sesuatu yang bisa dikaitan dengan uang. Ya, kamu bisa mendapatkan uang dari mengembangkan game (game developers), bermain game (pro-gamer), maupun mengulas game (game journalist). Siapa juga yang tidak mau dibayar untuk melakukan hal yang disukainya?

Hanya orang bodoh bukan? Ya mungkin saya termasuk orang bodoh itu, namun mungkin kebodohan dan keidealisan saya yang kedua kalinya ini adalah jalan yang terbaik dan harus saya lalui. Saya berpikir jika sebuah fantasi akan bisa saya wujudkan kembali kapan saja bahkan saat saya sudah berumur tapi tidak dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Oleh sebab itu sekarang selagi saya masih sanggup, ini saat yang tepat bagi saya untuk mencari ilmu lebih luas lagi dan belajar sesuatu yang baru yang saya butuhkan sebanyak-banyaknya. Saya ingin membangun dan memiliki sebuah fondasi yang kuat :). Tentu saja saya tidak akan melupakan kenangan-kenangan tadi, masa di mana saya mengulas game, mendesain game, membantu indie game developer untuk proses testing, dan tentu saja saya masih akan tetap bermain game :D.




Sedikit cerita dari pengalaman saya selama magang di perusahaan game selama setahun. Saya mendapatkan 2 pengalaman, salah satunya adalah dengan bekerja sebagai game tester yang mana saya percaya kalian akan amat sangat meremehkan pekerjaan tersebut dan pasti tidak sedikit dari kalian yang berkata seperti ini:

"Ah, cuma main game doank apa susahnya?"


"Idih enak banget kamu cuma main game doank kerjaannya, anak kecil juga bisa"


Tapi tahukah kamu jika menjadi game tester itu tidak semua orang bisa melakukannya? Saya amat sangat salut terhadap mereka yang sanggup bertahan menjadi quality assurance selama bertahun-tahun, kudos untuk mereka. Tanpa keberadaan mereka dalam sebuah industri game, saya bisa jamin kamu akan memainkan sebuah game dengan terus menerus ngomel-ngomel entah karena bug sepele maupun yang fatal katakanlah crash setelah bermain selama 5 menit (bukan karena low memory) :p. 

Hal kedua yang perlu kamu ketahui, seorang programmer tidak akan setangguh QA untuk melakukan pengetesan kembali terhadap apa yang ia kerjakan secara berulang-ulang. Mungkin bisa diibaratkan dengan kalimat seperti ini, "Kodingnya saja sudah dilihat terus menerus sepanjang hari dengan memeras otak, tenaga, dan pikiran. Kalau harus cek sendiri lagi dengan teliti, lebih baik bunuh saya saja :'). Oleh sebab itu, peran QA yang kamu mungkin anggap remeh ini justru sangat penting di sini. Kalau QA sudah bilang oke dan kenyataan berkata lain, siapa yang salah? QA yang salah... kenapa tidak melaporkan T__T.

Namun satu hal yang paling mengesalkan adalah ketika kamu membaca komentar-komentar user yang entah terlalu polos atau apa, mereka tidak bisa membedakan apakah itu benar-benar bug atau kesalahan karena device mereka. Percayalah itu sungguh menjengkelkan ketika kamu sudah yakin 99% dengan game yang kamu tes tadi bebas dari bug .. Iya 99% bug free, 1% human error rate with very rare chance :p dan tiba-tiba sebuah komen cukup konyol muncul di kolom review. Tapi mungkin di situ juga letak keseruannya.

Hal ketiga yang tak kalah penting jika kamu ingin menjadi QA, kamu harus bisa dan siap bermain semua game tanpa memandang genre apakah itu. Untung saja selama saya menjadi QA saya tidak diminta mengetes game aneh-aneh seperti pertanyaan kalkulus misalnya, atau bermain game bergenre poker/ dice/ Trading Card Game. Karena jika iya... mungkin sejak tahun lalu, bendera putih selebar 1 meter sudah saya kibarkan dalam kantor :p saya menyerah... Untuk semua QA-QA yang sedang berjuang di luar sana tetap semangat, jasa kalian sungguh luar biasa...

Sebenarnya saya masih bisa bercerita lebih banyak lagi, tapi saya tahu kamu sudah mulai bosan melihat teks hitam ini, jadi saya sudahi saja. Terima kasih atas kesediaan kalian untuk membaca catatan penulis yang ga penting ini. Oh ya, sampai jumpa kapan-kapan di pos saya yang selanjutnya :p

Sunday, May 31, 2015

[Pengumuman] Heiho! Ada Perubahan Kebijakan Blog, Penting Wajib Baca!

Setelah menimbang, mengingat, mengukur, mengkaji ulang, dan meneliti kembali dari ujung hingga pangkalnya (nulis apa si ini), berdasarkan pasal awal bulan Juni 2015... maka saya selaku pemilik blog ini memutuskan untuk menjadikan nama Ice Cream, Icy Journey berubah menjadi nama Catatan Ga Penting yang Penting. 

Isi blog ini akan menjadi sedikit kacau (istilah kerennya GADO-GADO) dengan memasukan lebih banyak konten yang ga penting. Alasannya simpel.... Pemilik ingin menjadikan blognya sebagai ajang pencarian bakat terpendam... Yeah! (bukan!belajar menulis (itu uda dari SD) wadah untuk menuangkan unek-unek karena problematematika hidup yang berkepanjangan, sebut saja karena menjelang skripsi :v.

Jadi singkat cerita blog ini akan diisi suka-suka oleh yang punya entah kapan saja tergantung mood si empunya. Terkait kontennya, bakal banyak berisikan tentang humor, lelucon, sharing hal yang aneh, yang ga jelas, yang ga penting, dan yang sebenarnya ga ada untungnya juga buat dibaca. Tapi ya lumayan juga buat bahan bacaan :v (Tabok ni, niatnya apa woi!!)

Enywey buswe, si empunya akan tetap mempertahankan kredibilitasnya sebagai seorang indie lover, yang bergerak di bidang. Ia tetap akan mengelola blog kesayangannya, Indie Gems dengan baik dan benar, penuh dedikasi dan cinta kasih.... Trust me... outside of this blog, every content are serious. I just can't be a serious person when  I'm typing/ making a post on this blog... So weird but that's the fact... Really strange fact... That doesn't mean I have 2 different personality :P

Last word, pemilik blog juga punya channel YouTube kecil-kecilan, ya boleh dilihat-lihat siapa tahu ada yang tertarik dan bisa subscribe... lol lol lol dan jika kalian suka dengan blog ini (hmm meragukan sih), jangan sungkan untuk sering-sering berkunjung ya... XOXO Bye bye sampai jumpa di pos berikutnya yang entah kapan :v

Saturday, May 30, 2015

[Crazy Recipe] Cheap Yummy Cheese Ramen

Ketika akhir bulan melanda, dan kamu ingin makan enak... Mari saya ajarkan makan ramen kenyang dan enak rasa restoran seharga kurang dari 20.000 saja. Kalo di mall-mall mana dapet ramen Rp 20.000, paling murah Rp 35.000 itu pun polos dan sepertinya susah ditemukan.

Jadi, bahan-bahan yang kamu butuhkan adalah:

- 1 Bungkus Mi Ramen, saya pakai Shin Ramyun Merk NongShim. Beli di Al/ Ind Rp 9.700 atau kalau mau murah bisa beli yang merk Nissin cuma Rp 5.000


- 1 butir telur ayam negeri harga Rp 1.500


- 1 slice keju Cheddar Single, bagi 2 bagian sama besar (Nah untuk yang ini saya pakai 2 iris kecil keju (tebal 1 cm/ irisan) Cheddar QuickMelt - sama aja; harga keju Quick Melt Rp 28.000 tapi bisa dipakai untuk 5 kali masak. Jadi total sekali pakai Rp 5.600)


- Kompor listrik/ Kompor di kos/ pinjem temen
Tahu lah ya, gambar kompor kaya gi mana :p

Cara membuat:

- Masak mie sesuai petunjuk, kalau saya lebih suka merebus mie lebih dahulu lalu meniriskannya di mangkuk. Untuk kuahnya saya rebus air baru lagi.
- Nah di air rebusan baru kamu hanya perlu memasukan bumbu dan sayuran kering.
- Kemudian, masukan separuh keju yang kamu punya, aduk hingga keju mulai larut.
- Saat kuah mi mulai mendidih, kecilkan api. Lalu, masukan telur yang diceplok langsung ke dalam panci, ga usah dikocok.
- Masukan kembali mie yang telah kamu tiriskan tadi, aduk sebentar hingga semua mie terendam dengan kuah.
- Tambahkan sisa keju yang kamu punya di atas mie. Besarkan api kompor sebentar kira-kira 10 detik atau hingga keju sedikit meleleh di atas permukaan mie.
- Mie siap disantap :D

Mudah bukan? Semua biaya yang kamu keluarkan hanya sekitar Rp 17.000 saja, bahkan bisa lebih murah jika kamu pakai mie yang lebih murah :3 tapi rasa ga kalah sama ramen bintang enam
Selamat mencoba, jangan lupa share foto penampakan karya kamu ya! Awas jangan kebanyakan keju, ntar enek and bikin perut mules :v

Nah ini penampakan mie yang kemarin saya buat :3

Kuahnya jadi agak kental karena ada kejunya
Slurp... Yummy, cheese overload

Sunday, May 17, 2015

Impresi Menggunakan One Plus One Selama... Yah Lupa

Setelah vakum hampir satu tahum, si empunya blog memutuskan mencoba menulis kembali di blognya yang telah lama terlantar ini dan sudah hampir bulukan :v. Setelah pos gila pengalaman empunya blog yang masak Mac n Cheese gagal, pos iseng berikutnya dibuat oleh seseorang yang sibuk dan mulai stres mendekati tahun akhir perkuliahannya. Jadi ia memutuskan menulis untuk mencurahkan isi hatinya.. Cie i le... #ini kamus baru :p.

Jadi biar singkat aja, sejak tahun 2012 - hingga awal 2015 seseorang ini pake HP Samsung Galaxy Ace II. Orang ini mau beli iPhone tapi lebih suka main game di iPad, lagian orang ini juga ga punya duit. Pingin XiaoMi tapi juga ga kesampean gara-gara berbagai hal, lagian dengan memori internal 16 GB itu jauh dari kata cukup bagi maniak download yang satu ini.

Siapakah orang ini? Ah sudahlah itu ga penting :p.

Akhirnya si empunya blog memutuskan membantu orang ini dengan membelikan dirinya sendiri #lho sebuah smartphone baru 1+1 yang kenyataannya dibeli dengan alasan spek sama dengan Mi4 tapi kapasitas memory lebih besar. Awalnya tidak berencana membeli, namun karena kesal dengan samsoel yang kian hari kian melemot ditambah roti jahe yang lebih cocok dinikmati orang tua. Keputusan yang sulit namun berat mesti diambil. Berbekal celengan ayam yang telah ditabung di bank selama ratusan tahun ... ini mulai ngaco ga perlu dibaca. Singkat cerita, HPnya sudah dibeli dan ini mau berbagi tentang impresi memakai One Plus One selama... ya mungkin beberapa bulan.

Oke agar posnya tetap relevan, jelas, dan singkat:
Inilah spesifikasi one plus one yang dikutip dari GSM Arena :v. Kalo mau lengkap bisa baca sendiri di sini.

- CPU: Snapdragon 801 2.5Ghz

Sejujurnya si empunya blog ga punya pengalaman dengan yang namanya CPU, selama ini tidak menaruh perhatian cukup besar terhadapCPU mengingat aktivitas gaming kebanyakan di iPad yang rata-rata bisa melahap hampir semua game baru yang dirilis.



Ketika membeli hanya melihat yang penting angkanya tinggi, mengecek sebentar di laman situs resmi, terus oke-oke saja. Kenapa pilih yang 'GHz' tinggi? Ga tahu juga tapi bisa jadi karena muncul pikiran ini adalah android yang rakus dalam segala hal, maka kamu harus mempersiapkan cadangan sebaik-baiknya.

- GPU: Adreno 330




Tidak terlalu peduli karena kebanyakan main game di iPad, terus buat apa beli HP spek tinggi? Jangan salah tafsir dulu abang-abang, mbak-mbak, adek-adek sekalian. Saya butuh untuk uji coba game yang ada. Sebagai indie miner, harus sedia payung sebelum hujan. Kalau spesifikasinya terlalu rendah, tidak ada artinya saya beli handphone baru. Monggo bisa cek di sini untuk info lebih lanjut.

- RAM: 3 GB, actual about 2,8 GB

Ini merupakan salah satu hal yang paling dipertimbangkan mengingat Android merupakan OS boros RAM. Bahkan saat dalam keadaan stand by saja sudah memakai 25-35% dari RAM. Jadi mesti pilih yang tinggi.

- Memory Internal: 64 GB, actual about 55 GB. No external slot for MicroSD


iPad yang 64 GB saja sisa 4 GB. Jadi karena tidak mau mengalami kesalahan yang sama, meskipun 1+1 tidak 100% untuk gaming, empunya blog tetap memilih yang versi 64 GB dengan alasan tidak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Untuk beberapa alasan memang saya tidak mau beli HP dengan memori eksternal, jadi memilih memori internal yang besar.

- Main Camera: 13 MegaPixel

Contoh hasil kamera belakang.. Semua foto tanpa filter :3



Biar bagus kalo fotonya dimasukin ke Instagram, Path, Facebook, dkk. WTF!?!?

- Secondary Camera: 5 MegaPixel

Biar kalo selfie hasilnya bagus, biar foto rame2 bisa dilakukan dengan mudah

- Android Version: Cyanogen 11 Android 4.4.4 (Now Cyanogen 12 Android 5.0.2)

No ide.... Tidak peduli OS, yang penting selama game yang ada kompatibel dengan OS HPnya sudah cukup. Karena sejujurnya si pemilik blog ini sangat mencintai iOS tapi apa daya ia terlalu jual mahal akibatnya si pemilik blog berpaling ke yang si robot hijau untuk kurun waktu yang lamanya belum ditentukan :v

- Price: Rp 4.300.000


Harga asli mencapai 4,5 juta. However, I was lucky enough to get a discount coupon to buy this one.

Oke.... Pertama kali memakai 1+1 rasanya beda adem dingin gitu... Sebenarnya sangat terasa berbeda karena handphone saya sebelumnya berlayar mini dengan OS Roti Jahe ditambah kapasitas RAM yang kurang dari kata 'cukup'. Alhasil ketika disuguhi sesuatu yang bisa dibilang 5 bahkan 10 kali lipat lebih baik, tentu saja akan terasa sangat berbeda :P


Gripping: Kendati telapak tangan saya terbilang cukup besar, tetap saja 1+1 terasa besar sekali saat ada di tangan. Namun masih bisa digenggam dengan baik dan untuk melakukan kontrol dengan satu tangan, saya masih bisa melakukannya dengan cukup lancar tanpa masalah. Lebih lagi, 1+1 juga memiliki body yang cukup tipis dan bobot yang ringan untuk sebuah HP ukuran jumbo


BackCase: Kasar kaya ampelas. Mungkin karena namanya sandstone black jadi kasar gitu.

Resolusi Layar: Oke, dengan layar 5,5" dan mendukung resolusi 1920x1080p, gambar, video, game terlihat tajam dan bagus.

Sim Card: Single Sim, bisa pakai micro atau nano sim



Nah yang paling saya suka dari 1+1 adalah fitur AudioFX dan ScreenCast-nya.

AudioFX


Suara musik yang dikeluarkan dari speaker HP ini sebenarnya masih kalah dengan speaker iPad Air saya, meskipun katanya speaker 1+1 sudah stereo (padahal kenyataannya dual-mono speaker). Tapi, saat memakai earphone dengan fitur AudioFX diaktifkan... Duh.. speechless jadi bagus banget dan sekedar informasi saja, earphone yang saya pakai biasa saja, tidak ada yang spesial. Mungkin kalo earphone yang dipakai Beats/ Bose suaranya bisa lebih mantab lagi :p

ScreenCast


ScreenCast, salah satu fitur yang sangat memudahkan kamu memberikan/ menjelaskan suatu tutorial lewat HP terlebih jika kamu suka membuat gameplay video dengan komentar di dalamnya. Sayangnya suara yang terekam oleh aplikasi ini terbilang cukup pelan. Sehingga ada baiknya kamu mengedit video kamu lebih dahulu sebelum memutuskan mengunggahnya ke YouTube.

Pros lainnya:


+ Suara keras baik speaker maupun mic, beberapa orang memberi tahu jika suara saat menelepon sangat kecil. Nyatanya suara mama saya waktu telpon saya kedengaran kenceng tu bahkan ga perlu di-loudspeaker uda bisa denger jelas. Kebayang gak kencengnya :v volumenya juga cuma setel di posisi 2 lho.

+ Sejauh ini bisa melahap semua game yang saya mau. Bahkan game dengan review black screen (baca: tidak bisa dijalankan) di HP tertentu bisa berjalan dengan jaya di 1+1. Overall untuk apps compatibility 1+1 bisa dibilang memuaskan.

+ Gesture bagi si pemalas seperti saya :v saat kondisi layar HP mati (terkunci). Gambar 'V' di layar untuk menyalakan senter, gambar 'O' untuk membuka kamera, gambar dengan 2 jari untuk play/ pause lagu, gambar '>' untuk play next song, gambar '<' untuk play previous song, dan ketuk 2 kali untuk menyalakan layar.

+ Hasil kamera terbilang cukup memuaskan dengan beragam mode yang bisa dicoba untuk bereksperimen saat berfoto. Respon tangkap dan simpan gambar juga lumayan cepat. Ah, 1+1 juga mendukung merekam video dengan resolusi 4K (Cyanogen OS).

Yang tidak saya suka dari HP ini alias Cons


- Musik player bawaan dari Google. Pada awalnya merasa wat the hek... terlalu polos dan gambar album art juga terpotong. Tapi lama-lama terbiasa juga, malah setelah download Apollo music player, tetep puter dari PlayMusic

- Ringtone untuk nada dering telpon harus dimasukan dalam folder Ringtone agar benar-benar bisa berfungsi. Jika kamu ingin lagu yang kamu suka menjadi nada dering sekaligus di dengarkan di PlayMusic, maka kamu harus menyimpannya di folder Ringtone dan Music (punya 2 kopi file)

- Secara default, tidak bisa membuat folder. Saya tidak suka jika HP saya memiliki banyak halaman di menu. Saya suka mengelompokan aplikasi sejenis ke dalam satu folder yang sama. Sayangnya tanpa bantuan launcher mustahil bagi kamu untuk melakukan hal itu pada layar menu OnePlusOne.. Boomer

- Minim kustomisasi tema, font, dsb. Jika di hp jadul saya, saya bisa memakai beragam font lucu-lucu, sekarang ini terbilang lebih sulit. Apalagi tidak jarang font yang diunduh melalui PlayStore tidak kompatibel dengan 1+1

Kesimpulan


Sejauh ini rasanya saya sangat puas menggunakan 1+1, terlepas dari kekurangan yang saya sebutkan di atas, saya merasa sangat nyaman memakai 1+1 dalam kegiatan sehari-hari saya. Terkecuali smartphone satu ini (lihat gambar di bawah), saya rasa akan sulit untuk menemukan pengganti yang 'sesempurna' 1+1 dengan harga di bawah 4.5 juta.
Oh ya.. baru inget, kayanya saya pake HP ini sekitar hampir 2 bulanan.

Sunday, May 10, 2015

[Crazy Recipe] Mac n Cheese with Too Much Cheese

It's Sunday, and I want to experiment with my cooking skill. After my internship began, I cook everyday and mostly there's nothing wrong with my cook. I love my cook and all of them are quite tasty IMO.

But, today's cook is crazy enough for me. I often browse some random mac n cheese recipes over the internet. I don't have oven nor microwave here, so I try to use stove version. However, I'm an experimental person. So I decided to cook my own version based from 'my imagination' though I've read at glance about how to cook it first actually.

So, here are my ingredients to cook my own version of Mac n Cheese :p

- Elbow Macaroni
- Edam Cheese
- A slice of Cheddar Cheese
- One table spoon salted butter
- 125 mL low fat milk
- Parmesan cheese to garnish

Okay the worst thing, I don't even measure how many cheese should I use to make just a bowl of Mac n Cheese. I just put everything randomly into a pot.... Then disasters just come....

It looks good, right?

  • First, the Edam Cheese doesn't melt easily. I already cut it into small block pieces but it only becomes smaller when I heat it.
  • Second, after I bring it to boil and I think it's already cook, I pour it into bowl and add some parmesan cheese into it and mix it. The room temperature made it bit lumpy like a clot.
I throw all those lumpy cheese... No just no more cheese
  • Third, the mac n cheese becomes to cheesy. First spoon was okay, I can say it's yummy. However after the third spoon it becomes so worst. My stomach being full all of sudden and I don't think I can eat that anymore. Too much cheese inside :(
  • But... but.. but... I can't waste any food. Then I try to find a way to keep eating the mac n cheese but with more 'better' way
Solution:

I rinse my food with lemon water twice. Kind of pouring the lemon water like a soup for my Mac n cheese, I mixed it until the cheesy cheese inside macaroni popped out and throw away the remaining lumpy cheese.

Wait a minute, doesn't it make the food tasteless?

Yes, probably but I have an idea to put sweet chili sauce (Bangkok sauce) into it. 



Does it taste better?

Yes, I think mac n cheese just doesn't suitable enough for my tongue. Well, I might change that thought later but right now I won't bother to make other mac n cheese anymore. The Bangkok sauce has made my disaster mac n cheese better and I just think why don't I make mac n sweet sauce instead of cheese? I bet it'll be taste better for asian tongue :p.

Regarding the cheese, may be I 'll give that to my mom when she's back from Guang Zhou. She will know how to use it well. Seriously, I think cheese is good but I think I'll stick mozarella only (this is excepetional), mozarella in the pizza is hilarious and taste so good also for cheese stick version.

Better than first one


Why you share your failed recipe?

Actually, it's not 100% failed just may be 75% :v, in the end the 'Asian' style just taste better than 'Western' style one and I discover a new recipe to be try some day. Well, in fact everyone might failed when cooking too, though mostly they only share about their successful foods but never share their failed experience. Hope you enjoy your reading :D
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...